Merumuskan penggalan-penggalan Sejarah Aceh memang terkadang mengelitik untuk digali. Sejauh ini literatur yang berbicara tentang Aceh, kebanyakan dari catatan sejarah yang muncul dari hampir semua tulisan selalu diawali dengan informasi tentang islam terutama menekankan pada keadaan sosial dan proses Islamisasi di daerah ini.
Padahal kalau diamati banyak sekali perabadan Hindu yang masih tertinggal di Aceh. Seperti Indrapuri yang sekarang menjadi nama Masjid Indrapuri di Aceh Besar, Benteng Indraprata yang masih wujud sampai sekarang di Kota Jantho. Dari kedua kata Indrapuri dan Indraprata tersebut jelas bukan berasal dari istilah Arab dan Bahasa Aceh. Budaya Rabu Abeh yaitu kegiatan berdoa yang dilakukan di masjid-masjid untuk menjauhkan bala. Dan sampai sekarang kegiatan budaya Rabu Abeh masih tetap dilakukan masyarakat Aceh. Budaya Rabu Abeh ini sedikit banyak mengadopsi budaya Hindu. Ini adalah beberapa fakta kecil yang mewakili bahwa dalam sejarah Aceh pernah hidup peradaban Hindu atau mungkin juga peradaban lain yang sampai kini belum terungkap tabirnya. Oleh karena itu, wajar bila Zainuddin menuliskan dalam Aceh Serambi Mekkah, bahwa sebagian besar catatan sejarah tentang Aceh sebelum tahun 400 M tidak diketahui secara jelas. Bahkan, catatan J. Kreemer sebagaimana dikutip oleh Aboebakar Atjeh menyebutkan bahwa sebelum tahun 1500 sejarah Aceh masih belum diketahui orang. Jadi tidak salah jika lahir sebuah pertanyaan dari berbagai generasi yang merupakan penerus sejarah peradaban “seperti apakah perabadan Aceh sebelum kedatangan Islam?”.
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW membawa agama Islam, sudah terjalin hubungan erat antara Bangsa Arab dan Bangsa Melayu sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan Arab, Persia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Letak geografisnya yang sangat strategis menjadikan pelabuhan Aceh sebagai pusat transit para pedagang untuk mempersiap logistik dan melanjutkan pelayaran dari Cina menuju Arab ataupun Persia. Lahirnya pelabuhan bebas dan juga kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri dan Jeumpa dengan komoditas unggulan “kapur barus” yang menjadi idiom kemewahan para Raja dan bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya telah membawa daerah ini ke jajaran kota pertumbuhan peradaban dunia. Karena kemewahan komoditas ini mengundang berbagai pakar dari berbagai tempat untuk melahirkan bermacam teknologi pengolahannya dan membuat komunitas baru sesuai keahlian masing-masing. Itulah sebabnya wajah orang Aceh berbeda dengan wajah orang Jawa, Makassar ataupun Melayu. Wajah mereka lebih kosmopolit yang merupakan perpaduan dari keturunan Arab, Cina, India, Parsi dan tentunya Eropa. Dan perpaduan ini telah berjalan berabad-abad sebelum kedatangan Islam di wilayah ini. Juga dikatakan bahwa Aceh pada saat itu berada di bawah Kerajan Poli atau Lamuri yang takluk kepada Kerajaan Sriwijaya.
Keadaan Aceh pra Islam dipengaruhi oleh ajaran Hindu, hal ini diungkapkan dengan memperhatikan cara berpakaian wanita Aceh yang bersanggul miring sesuai cara wanita Hindu sebagaimana diutarakan Snouck Hurgronye. Julius Jacob seorang ahli kesehatan yang pernah bertugas di Aceh tahun 1878 menyatakan bahwa pengaruh Hindu atas penduduk setidak-tidaknya dapat ditemukan dengan kenyataan tentang pemakaian nama-nama tempat dalam bahasa Hindu istilahnya terdapat dalam bahasa Aceh. Dalam sastra Aceh juga tidak jauh dari cerita Hindu, seperti Hikayat Sri Rama dan Rahwana yang menimbulkan dugaan bahwa hikayat itu mencerminkan sejarah Aceh dan Raja Rahwana yang dimaksud di dalamnya adalah Raja yang pernah bertahta di Indrapuri.
Jika diperhatikan dari intensitas pergaulan, terutama dalam bidang perdagangan antara Aceh dan India pada masa itu, maka dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan anutan sebagian masyarakat Aceh sebelum kedatangan Islam. Selain Hindu, diperkirakan agama Budha juga menjadi anutan sebagian masyarakat Aceh yang lain, yang diduga dibawa oleh orang-orang Cina. Dengan demikian terdapat kecenderungan bahwa budaya yang berkembang dalam masyarakat Aceh pra Islam bersumber dari ajaran Hindu. Tetapi, tidak ditemukan catatan sejarah yang menceritakan seberapa besar pengaruh Hindu dan Budha di Aceh pada masa pra Islam.

Comments
Post a Comment