Skip to main content

Posts

Old and New War in Aceh

By Kurt Biddle THE INDONESIAN MILITARY (TNI) is waging a full-scale war on Aceh. Indonesian President Megawati Sukarnoputri has instituted martial law and authorized military operations there for a period of six months, which may be extended. Some 50,000 Indonesian troops have been deployed to “exterminate” the rebel Free Aceh Movement (GAM), a force of less than 5,000. On Monday, May 19, in what has been described as the biggest Indonesian military operation since the 1975 invasion of East Timor, Indonesian paratroopers filled the sky over Aceh, jumping out of U.S.-made C-130 transport planes. OV-10 Bronco counter-insurgency planes, also supplied by the United States, fired rockets at positions near Banda Aceh, the capital. General Dynamics-manufactured F-16 fighter jets are being used to rocket and bomb rebel positions as well. Although U.S. weapons shipments to Jakarta are currently suspended, the TNI plans to attack Aceh with a host of U.S.-supplied military hardware, ...
Recent posts

Bloodiest War of Aceh

The Acehnese war [also Aceh War] (1873-1904) was one of the longest and bloodiest in Dutch-Indonesian history. This armed conflict between The Netherlands and the Muslim sultanate of Acheh [now Aceh] in northern Sumatra resulted in Dutch conquest of the Achinese and, ultimately, in Dutch domination of the entire region. An estimated 4000 Dutch and 25,000 Achinese died in the fighting. The 1824 Treaty of London defined a British sphere of influence on the Malay Peninsula and a Dutch sphere on Sumatra, although its provisions placed no restrictions on British trade on the island. Sumatran trade became an issue of contention, however, because the British resented what they saw as Dutch attempts to curtail their commercial activities. One provision of the Treaty of London was the independence of the north Sumatran state of Acheh. But Acheh controlled a large portion of the pepper trade and alarmed the Dutch by actively seeking relations with other Western countries. A new Anglo-Dutch ...

ACEH PRA ISLAM

Merumuskan penggalan-penggalan Sejarah Aceh memang terkadang mengelitik untuk digali. Sejauh ini literatur yang berbicara tentang Aceh, kebanyakan dari catatan sejarah yang muncul dari hampir semua tulisan selalu diawali dengan informasi tentang islam terutama menekankan pada keadaan sosial dan proses Islamisasi di daerah ini.           Padahal kalau diamati banyak sekali perabadan Hindu yang masih tertinggal di Aceh. Seperti Indrapuri yang sekarang menjadi nama Masjid Indrapuri di Aceh Besar, Benteng Indraprata yang masih wujud sampai sekarang di Kota Jantho. Dari kedua kata Indrapuri dan Indraprata tersebut jelas bukan berasal dari istilah Arab dan Bahasa Aceh. Budaya Rabu Abeh yaitu kegiatan berdoa yang dilakukan di masjid-masjid untuk menjauhkan bala. Dan sampai sekarang kegiatan budaya Rabu Abeh masih tetap dilakukan masyarakat Aceh. Budaya Rabu Abeh ini sedikit banyak mengadopsi budaya Hindu. Ini adalah beberapa fakta kecil yang mewakil...

LEGENDA NAMA ACEH

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Dilihat dari letak geografis Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sangat strategis, karena ia merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia. Aceh merupakan sebuah nama yang lahir berdasarkan berbagai legenda, Semenjak zaman neolitikum, selat Malaka merupakan terusan penting dalam gerak migrasi bangsa-bangsa di Asia, dalam gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalan niaga dunia serta jalan penghubung utama dua kebudayaan besar, Cina dan India. Muncul dan berkembangnya negara-negara sekitar selat Malaka tidak dapat dipisahkan dari letak geografis yang sangat strategis itu. Aceh sudah dik...

ACEH

Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka.